KULINER. Tape Uli: Manisnya Warisan, Hangatnya Kasih Sayang

Image
     Tape uli adalah salah satu k ue tradisional Betawi yang memiliki kekayaan rasa sekaligus makna. P erpaduan antara uli ketan yang gurih dan tape singkong yang manis-asam. Sekilas sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan nilai kasih sayang, kebersamaan, dan warisan budaya yang tak ternilai. Sejak dahulu, tape uli sering disajikan dalam acara keluarga, menjadi simbol kehangatan dan kerukunan. Setiap proses pembuatannya mengajarkan kesabaran, ketelitian, sekaligus cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah gempuran makanan modern, menjaga tape uli berarti menjaga jati diri. Melestarikan kue tradisional ini bukan sekadar mempertahankan rasa, melainkan merawat kenangan, menghargai leluhur, serta menanamkan kebanggaan budaya pada anak cucu. Mari kita jaga warisan ini. Karena melalui sepiring tape uli, kita belajar bahwa cinta pada budaya dimulai dari hal-hal sederhana, dari meja makan keluarga, hingga ke hati yang penuh kasih.   Order Tape Uli: 08527...

Tari Katrili Perpaduan Budaya Minahasa Eropa



TARI KATRILI menjadi salah satu penampilan yang disuguhkan pada acara Penutupan Pendidikan Pertama Bintara TNI AD yang dilaksanakan di Sekolah Calon Bintara (SECABA) Rindam XIII/Merdeka Amurang Kabupaten Minahasa Selatan Sulawesi Utara pada Senin, 29 Januari 2024. Tari Katrili berasal dari Sulawesi Utara yang merupakan perpaduan budaya Minahasa dan Eropa. Secara etimologi Katrili berasal dari bahasa Eropa yaitu Quadrille. Pada abad ke-18 dan ke-19 tari Quadrille sangat populer di Inggris dan Prancis. Tari ini kemudian di adaptasi oleh masyarakat Minahasa sehingga berubah menjadi Tari Katrili. Tari ini biasanya dipentaskan oleh muda mudi Minahasa saat menyambut kedatangan tamu agung atau perayaan festival kebudayaan. Jika kita saksikan tarian ini nampak seperti tarian modern namun sebenarnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.




Awal mula tarian ini mainkan oleh bangsa Portugis dan Spanyol di Sulawesi Utara saat mereka datang untuk membeli dan banyak memperoleh hasil bumi. Untuk merayakan momen tersebut mereka menggelar pesta yang sangat meriah dengan diiringi tarian yang dilakukan oleh kelompok pria dan wanita secara berpasangan. Masyarakat asli Minahasa atau orang pribumi pada saat itu diajak oleh bangsa Portugis dan Spanyol untuk ikut serta dalam pesta perayaan. Kemudian lama kelamaan tarian tersebut diikuti oleh masyarakat setempat dan di lebur dengan kesenian khas Minahasa baik dari gerakan, musik, dan kostum nya. 


 

Comments

Popular posts from this blog

Berdialog Dengan Sang Pencipta

Tuanku Imam Bonjol dan Sulawesi Utara