Virtual Kelas Santri Attaqwa Putri Bekasi

 

 Membangun Kelas Kolaborasi Santri Attaqwa Putri Bekasi

Susan Sovia 


Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengisi kelas virtual santri Attaqwa putri. Kelas virtual ini bisa dikatakan sebagai kelas kolaborasi antara Ustazah Safinatunnaja sebagai guru mapel Sejarah dan saya sendiri sebagai guest teacher. Walaupun berbeda pulau, saya di Aceh sedangkan ustazah Safina dan santrinya di Bekasi, suasana kelas pada saat itu menurut saya pribadi begitu hidup, penuh gairah, dan saya yakin sangat bermakna bagi santriwati saat mengikuti proses pembelajarannya. Kenapa? salah satu faktornya adalah karena dilakukan secara team teaching. Ya, namanya juga tim, berarti kami melakukannya secara bersama-sama, mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran. Team teaching ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi santri tetapi juga dapat meningkatkan kualitas mengajar bagi guru. Banyak teori dan penelitian yang menunjukkan the power of team teaching dalam pembelajaran. Itu baru kelas kecil, bagaimana kalau sesama alumni saling berkolaborasi untuk membangun kelas-kelas inspiratif, menyenangkan dan bermanfaat bagi umat ..


                                                        KH. Noer Ali (1914-1992)

Dalam kelas virtual bersama santri, kami mendiskusikan santri era global meneladani perjuangan KH. Noer Ali. Dikisahkan dalam sejarah, bagaimana KH. Noer Ali punya keinginan yang kuat untuk belajar ke luar negeri (Mekkah). Untuk membiayai pendidikan KH. Noer Ali, ayahnya H. Anwar bin Layu yang profesinya sebagai petani harus meminjam uang ke Wat Siong seorang saudagar tanah. (https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/02/12/pmsv1k458-kh-noer-ali-sang-singa-karawangbekasi). Jika KH. Noer Ali yang usianya masih belasan tahun, dengan segala keterbatasan dan kondisi Indonesia yang saat itu sedang di jajah bisa sampai ke Mekkah, apalagi santri Attaqwa, harus bisa menjadi santri yang “meng-global”, memanfaatkan akses informasi, mencari beasiswa yang banyak ditawarkan, dan kemauan untuk belajar dan meraih kesempatan.

Selain itu, untuk menghadapi era global santri harus memiliki kemampuan interpersonal bagaimana berhubungan dengan orang lain. Dalam sejarahnya, KH Noer Ali pandai memanfaatkan waktu, beliau tidak hanya menuntut ilmu  tetapi juga aktif di organisasi sehingga memiliki pergaulan yang melibatkan orang-orang dari berbagai negara yang ada di Mekkah serta memiliki networking yang luas. Di ceritakan juga bahwa KH. Noer Ali pandai bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang yang memiliki pandangan agama dan politik yang berbeda, beliau juga dikenal orang yang humanis dan toleran. Sekarang ini zamannya media sosial, maka santri harus pandai memanfaatkan medsos untuk membangun jejaring, belajar hal-hal yang positif dan bermanfaat. Bukan untuk “nyiyir” atau menghujat karena tak sependapat.



Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Verifikasi Seksi Ekonomi Persit Kartika Chandra Kirana Cabang X Rindam PD XIII/Merdeka

Opini Media Indonesia Februari 2023

Refleksi Diri